Sehening Kalbu

Kelana Berlandaskan Hati, Percaya Mengikat Diri…

Cinta Kepada Bulan

Posted by anakkawi on December 28, 2007

Seorang sahabat pernah bertanya, “kenapa kau suka melihat bulan? Cantikah bulan itu?”

Bulan itu bulat, dari bumi ini cuma kelihatan lubang-lubang kawah yang tidak cantik, semacam buruknya jerawat batu di mata manusia. Tapi masih aku menyukai melihat bulan itu.

Suatu ketika sinarnya cuma kelam. Semacam lampu suluh yang hampir kehabisan bateri. Malam kelihatan gelap, namun masih tetap kelihatan bulan di langit pekat.

Suatu masa pula ia langsung tidak kelihatan. Seakan-akan bulan telah ditelan kegelapan malam. Langsung tiada bayang. Membuat kita ketakutan.

Dan sampai saatnya, ia akan bersinar terang. Seperti lampu jalan yang besar. Alam seolah-olah kesiangan, walaupon sebenarnya telah larut malam. Jelas kita lihat sinarnya menyirami tanah ini.

Aku suka melihat bulan. Saat sinarnya terang, dikelilingi bulatan yang cantik. Selalu aku lihat bulatan itu seakan cincin bewarna merah, terang, dan sangat cantik. Namun kadangkala ia bewarna ungu. Namun, tetap cantik, dan indah.

Kadang kala jika kita lihat ke dada langit di waktu dinihari. Kelihatan bulan seakan-akan bebola besar. Tetap sangat indah. Seperti bola sfera yang terapung. [Namun kini kutahu ia sebenarnya adalah planet Pluto. :P]

Bulan itu juga seakan kita sebagai manusia. Kita tahu bulan cuma satu. Namun masih kita lihat ia dengan pelbagai rupa, pelbagai bentuk. Dan masih, kita tetap mengkaguminya.

Walaupun ia tetap berubah-ubah, seburuk mana pun rupa asalnya. Kita tetap menyukainya. Kerna sinar yang lahir, membuatkan kita tertarik. Amat.

Hari ini kita melihat seorang manusia, dengan rupanya yang paling anggun. Terus kita tertarik, tanpa menyedari sifat asalnya itu.

Kita menyukainya, sinarnya yang gemilang, lantas membuat kita jatuh cinta. Saat itu kita katakan cinta terhadapnya seluas alam terbentang indah.

Saat kita mabuk cinta, kita menafikan sifatnya yang kurang sempurna. Hingga tidak kita sedari, cinta yang hadir dipermulaan, telah mula pudar.

Tiada lagi cahaya yang indah, terang dan menawan bagi kita. Saat itu, tidak kita sedari, sebenarnya ia tidak mampu bersinar, kerna kita telah rampas sumber cahayanya.

Sebenarnya kita punya pilihan, melangkah pergi dengan sumber cahayanya yang telah kita rampas, atau kembali menjadi sumber cahaya bagi dirinya, membuatkannya kembali bersinar dengan gemilang.

Itulah CINTA. Cinta yang suci bukan hanya mencintai dirinya saat ia bersinar dengan terang, namun mengakui hakikat dirinya yang kurang sempurna, penuh dengan cacat celanya.

Belum terlambat untuk kita hadir, sebagai sumber cahayanya, supaya dirinya lebih bergemerlapan.

Berikan cahaya cinta kita dengan ikhlas, untuk insan yang paling kita cintai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: